Maka tersenyumlah selamanya.

19 Nov

Bukan. Walaupun Wind membuat pekat seluruh nafas Holiday, bukan berarti di kepala Holiday cuma ada Wind. oke, ada. sedikit. cuma sedikit. sumpah.

ada bagian yang kurang dalam diri Wind, tapi apa ya itu? mungkin karena Wind selalu dipenuhi salju-yang-tidak-pernah-meleleh. sedangkan Holiday tidak suka dingin.

Satu kali Wind pernah tanya, harus apa supaya salju-yang-tidak-pernah-meleleh itu meleleh dan memperbolehkannya sedikit hangat.

“Kenapa harus hangat?”

“Karena aku tak mau memelukmu dalam dingin.”

“Kenapa?”

“Karena kamu gak suka dingin.”

“Kenapa?”

“Karena kamu hanya tersenyum pada matahari-pagi. saya ingin memiliki senyummu yang itu.”

“Kenapa?”

“Karena senyummu yang itu yang bisa menghangatkan aku.”

“Kenapa?”

“Karena kalau aku hangat maka aku bisa menghangatkanmu saat matahari enggan muncul.”

“Kenapa?”

“Karena sering matahari terlambat bangun dan kau menjadi begitu redup dan aku menjadi begitu terganggu sehingga aku menjadi begitu membeku lalu semua salju-yang-tidak-pernah-meleleh itu memenuhi seluruh duniaku lalu aku membuatmu menjadi begitu kedinginan dan kau bersembunyi entah di sudut-sudut mana di dalam potongan pikiranmu sendiri dan aku menjadi begitu sulit untuk menemukanmu.”

“Kenapa?”

“Karena kau selalu mencariku untuk menghangatkanmu tapi kau bisa begitu jauh bersembunyi sampai kau sendiri lupa kau ada dimana sampai kau begitu panik mencari arah dan ketika akhirnya kau menemukannya kau malah lupa untuk kembali tersenyum pada matahari-pagi sehingga aku semakin membeku.”

“Kenapa?”

“Karena aku harus terbebas dari semua salju-yang-tidak-pernah-meleleh dengan cara memberiku senyuman matahari-pagimu sampai mereka meleleh sehingga aku bisa selalu memelukmu dalam kehangatan yang tak pernah berhenti seperti matahari.”

 

holiday. itself.

15 Nov

holiday. itself..

holiday. itself.

15 Nov

Bukan. itu bukan namanya. ia disebut holiday karena dia punya tampang paling menyenangkan di muka bumi. secerah mentari pagi musim kemarau. sehangat pelangi sehabis hujan. membawa jutaan janji-janji terindah seakan tak pernah ada yang digugurkan. dia selalu diikuti awan-awan tebal di dalam kepalanya jadi tidak ada seorang pun yang pernah melihatnya. seperti otak Einstein. sungguh ada dan tetap ada walaupun tak ada yang pernah melihatnya.

Dia adalah janin dengan placenta previa sebelum tahun sembilan puluhan. bukan hal yang mudah. dia menjalani kehidupan yang mencekam, seperti rumah kosong yang gelap dan berdebu. dia cukup kuat untuk menahan batuk. tapi pernah, sekali, dia terjatuh ke dalam lubang yang sangat dalam. terlalu dalam sehingga perlu bertahun-tahun mendaki untuk sampai ke permukaan dan melanjutkan perjalanan. dia tahu, tidak ada yang perlu disesali. dia melanjutkan perjalanan dengan keyakinan bahwa jika seseorang sudah pernah jatuh ke tempat terdalam, kalaupun nanti jatuh lagi, rasanya tak bisa lebih sakit.
ternyata di tahun ke dua belas, dia jatuh lagi. tapi kali ini dia bisa cepat mendaki. sangat cepat,malah. dan melanjutkan lagi perjalanan dengan keyakinan baru : “jika seseorang sudah jatuh dua kali ke lubang yang amat sangat dalam dan sungguh menyakitkan, maka dia akan terbiasa dengan rasa sakit. sampai akhirnya dia lupa seperti apa rasanya sakit. dan dia tak akan mengenal lagi rasa sakit. bahkan rasa sakit itu sendiri tak pernah datang lagi. karena dia sudah tidak bisa lagi merasa apa-apa. semua sama saja.”

holiday selalu sendirian. memberi dirinya sendiri kesenangan. menopang sendiri kepalanya yang bentuknya aneh. menonjol kesana-kemari, menutupi otaknya yang memang banyak, tapi kecil-kecil. sssttt…jangan bilang siapa-siapa. tentang ini, hanya para peri yang bisa melihatnya.

ada badai di luar. tapi di dalam gelap. yang terasa hanya angin dingin dan gemuruhnya. dia panik, berlari meneruskan perjalanan entah arahnya benar atau salah. di kepalanya dia hanya ingin menemukan jendela. jendela kaca. supaya dia dapat melihat pelangi.

dia hanya tak pernah tahu seperti apa wujud pelangi. dia pernah sekali memimpikannya.

dia masih terus berlari sampai dia menemukan jendela. dan melihat pelangi. kecewa. sama sekali tidak seperti yang muncul dalam mimpinya.

dia duduk di bawah jendela untuk waktu yang lama. mengenal rasa kecewa. ini berbeda dengan rasa sakit. kecewa itu nyaris hambar. tidak akan membuatmu mati, tapi cukup kuat untuk membuatmu bisa mendengar degup jantungmu sendiri. dan cukup menyesakkan untuk membuat air matamu menetes tanpa alasan jelas. dia diam dalam kekecewaan sampai mendengar bisikan angin berkata “kamu tak berhak mengingini. maka kamu tak perlu memendam kekecewaan.”

maka yang ada hanya api. api cukup besar untuk menutup rencana besar di salah satu otak kecilnya. ia mengiris rencana besar menjadi potongan-potongan kecil dan menyembunyikan semuanya, tak ada yang tersisa, di sudut-sudut gelap di otak-otak kecilnya. irisan-irisannya terlalu kecil sehingga angin tak dapat mengendus mereka. di tempat yang cukup gelap dan jauh sampai dia melupakannya.

tapi apinya masih ada. maka dia memanggil sebagian api, dipakainya untuk membakar telinganya sebentar. ia hanya bisa mendengar sampai 30 desibel. tak ada lagi bisikan angin untuk selamanya.

lalu ia mengumpulkan sisa api di dalam mulutnya sambil berlari. sekarang dia tak boleh lagi bernyanyi. jangan sampai apinya habis sebelum dia menemukan pintu keluar.

dia harus keluar. meninggalkan rumah gelap. berlari mengejar pelangi, lalu membakarnya sampai habis.